Dilah neneknya TK-TPA

Dialah Neneknya TK-TPA
( Ummu Sunarsih Binti Hardjo Suwito)Bagian (1)dari 2 bagian
Oleh
Komari Bin Karmani

Anak ke Sembilan dari sebelas bersaudara pasangan Harjo suwito dan Harjo Supinah ini lahir di sebuah desa perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah bernama Jatisumo kecamatan Sambung macan Kabupaten Sragen. Sejak kecil sudah menampakkan banyak kelebihan. Dan sekarang, tidaklah mengherankan jika banyak orang menyebutnya dengan sebutan neneknya TK-TPA. Betapa tidak, sejak pertama gerakan TK-TPA bergulir di Sulawesi selatan pada awal tahun 90-an sampai saat ini, dia masih tetap eksis membina TK-TPA walau aneka hambatan, rintangan serta amanah dakwah lainnya telah dia pikul; bahkan telah tiga kali TK-TPA pindah tempat karena kepindahannya ke rumah yang baru. Dia geluti dunia TK-TPA mulai masa remajanya hingga sekarang tanpa bergeser sedikitpun dari dunianya ini. Bukan saja dia sebagai pengelola TK-TPA saja, tetapi perhatiannya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan al-Qur'an di TK-TPA tak pernah berhenti. Banyak ustadzah datang atau menelpon atau sms menanyakan sesuatu dan konsultasi tentang TK-TPA.
Bahkan kiprahnya di TK-TPA semakin dia kembangkan bukan saja terbatas pada kalangan anak-anak semata, tetapi telah menyentuh kalangan remaja dan orang tua. Dirosa (Dirasah Orang Dewasa) dan buku-buku panduan bagi santri-santri TK-TPA adalah karya monumentalnya, dan tak mengherankan jika dia mendapatkan penghargaan sebagai pelopor pendidikan al-Qur'an dari DPP Wahdah Islamiyah tahun 2009 bersama 5 ustadz lainnya.

Perjalanan mendapatkan hidayah
Dia terlahir dari keluarga kurang mampu dan dalam suasana kehidupan desa yang belum tersentuh dakwah. Fokus kehidupan keluarga adalah mencari nafkah agar dia bisa bertahan hidup sampai esok hari. Sejak kecil telah terbiasa dan terlatih untuk hidup susah dan menderita. Dengan kedisiplinan yang tinggi, dia dan saudara-saudaranya bersama-sama bantu membantu mencari nafkah untuk menanggung beban keluarga. Masa kecilnya dilalui dengan banyak bekerja, bahkan pernah menjadi pembantu rumah tangga ketika kelas 3 SD dan berhenti sekolah.
Dua tahun kemudian dia melanjutkan sekolah dan langsung masuk kelas 5 SD dengan biaya hasil gajinya sebagai pembantu rumah tangga. Ini dijalaninya sampai masuk SMP dan SMA. Di sela-sela waktunya, dia berjualan untuk membiayai sekolah juga membantu penghidupan keluarga. Tiga tahun lamanya dia mengayuh sepeda setiap hari kurang lebih 22 Km pulang pergi sekolah dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Tidak jarang dia harus menahan haus dan lapar saat belajar karena pagi belum sarapan dan tanpa uang saku. Bahkan terkadang ban sepedanya kempes di tengah perjalanan dan harus didorong sampai tiba di rumah.
Nabi  bersabda yang artinya siapa saja yang diberikan petunjuk, maka tak seorangpun dapat menyesatkannya, barang siapa yang disesat maka tak seorangpun dapat memberikan petunjuk. Sesungguhnya petunjuk itu adalah petunjuk Allah  . Sangatlah sesuai dengan keadaannya. Ketika petunjuk itu datang, tiba-tiba dia mempunyai kemauan yang sangat kuat untuk belajar agama, untuk mengaji, untuk shalat 5 waktu, untuk memakai kerudung; yang berbeda dengan teman-teman sebayanya bahkan berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.
Untuk bisa belajar mengaji, dia harus menyelesaikan terlebih dahulu semua beban tugas rumahnya yaitu membuat krupuk atau mengupas ubi untuk dibikin menjadi tape. Tak jarang dia mendapatkan marah, bentakan, bahkan pukulan dari kedua orangtuanya manakala dia terlambat pulang dari musholla tempatnya mengaji. Bahkan ketika mengaji di rumah atau melaksanakan shalat, tetap mendapat omelan karena dianggap anak malas tidak mau bekerja. Tapi dia tetap bertahan dan maju terus, sampai akhirnya dia mampu membaca al-Qur'an, melaksanakan sholat lima waktu dan lain-lain; yang di kampungnya hal tersebut tergolong masih langka.
Tidak sampai disini saja, jiwanya mulai terpanggil untuk mengumpulkan teman-teman sebayanya, diajar mengaji, diajak aktif pengajian di masjid; masjid-masjid dan musholla-musholla diaktifkan, dilaksanakan shalat, belajar shalat, belajar mengaji. Geliat remaja putra-putri mulai nampak. Para muballighpun secara bergiliran datang ke kampungnya memberikan ceramah agama. Tak jarang gadis kelas 3 SMP ini tampil di depan teman-temannya untuk memberikan semangat belajar islam atau hanya sekedar sebagai protokol, atau mengisi waktu menunggu muballigh datang. Pernah suatu kali karena muballigh belum datang, dia tampil untuk mengisinya, tapi kenapa sudah beberapa lama, muballigh yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Dia lanjutkan terus ceramahnya,dan di luar dugaannya ternyata di penghujung waktu, sang muballigh datang dan sempat memberikan materinya sekitar 5-10 menit. Bukan mengisi pengajian yang beliau bawakan tetapi informasi kenapa beliau terlambat datang. Beliau sengaja tidak segera masuk ruangan dan memilih duduk di luar sambil mendengarkan ceramah yang ada di dalam. Beliau kagum akan keberaniannya, cara berceramahnya; beliau mengatakan “telah lahir dari Jatisumo seorang muballighot baru”. Mendengar penjelasan sang muballigh, dia tersipu-sipu malu namun tersanjung dan menambah semangatnya untuk bisa lebih baik lagi.
Selang beberapa hari, sang muballighpun datang ke rumahnya dan mengajaknya untuk ikut dalam kegiatan Training di luar kota yang diadakan oleh Pelajar Islam Indonesia (PII) mewakili Kabupaten Sragen. Seperti kebanyakan anak-anak seusianya, pergi ke kota lain adalah impian, apalagi ada orang yang akan menanggung semua biaya dan akomodasinya. Tanpa fikir panjang, tawarkan ini diterimanya dan kedua orangtuanyapun terpaksa menyetujuinya.
Sepekan dia ikuti training itu. Disitulah untuk petama kalinya dia bertemu dengan teman-teman baru perwakilan kabupaten-kabupaten lain se-Jawa Tengah. Disitulah dia dapatkan pelajaran-pelajaran agama secara global, pelajaran fiqh, akhlak, harakah islamiyah, masalah dakwah, menghafal al-Qur'an dan hadits; dan lain-lain. Di training itu pula dia dapatkan gemblengan untuk menuntut ilmu islam, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya. Terobatilah semua kehausannya selama ini. Hidayah yang selama ini dia perjuangkan, seakan-akan telah ada tempat penyalurannya.
Akhirnya, di PII-lah dia bergabung, belajar, berdakwah, bergaul; sempat menjabat sebagai koordinator PII wati (akhwat) kabupaten sragen sampai dia selesaikan pendidikannya di MAN Negeri Mantingan tahun 1987.

Hijrah ke Makassar.
Tujuan hijrah ke Makassar, tidak lain karena ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, karena mustahil bila masih di kampung. Disamping harus ke Solo, Yogyakarta atau Semarang untuk kuliah; juga tak ada dana untuk biaya kuliah. Jadilah Makassar menjadi tujuannya, karena beberapa saudaranya telah lebih dahulu ke Makassar merantau mencari nafkah dengan berjualan bakso dan jamu; dia bisa mencari biaya kuliah sendiri sambil dibantu pula oleh saudara-saudaranya yang lain.
Tahun 1988 dia mantapkan kakinya menginjak Makassar dan fakultas tarbiyah IAIN jurusan PAI menjadi pilihannya. Berbagai cara dia upayakan untuk mendapatkan biaya kuliah, mulai berjualan aneka pakaian, kerudung, menjahit bahkan berjualan bakwan dan pecel. Semua itu dijalaninya dengan penuh semangat dan penuh harapan agar cita-cita dapat tercapai. Akhirnya, setelah empat tahun dia lewati dengan kerja keras, belajar keras dengan berbagai suka dan duka, dia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang sangat memuaskan.

TK-TPA Al Aulad adalah awal perkenalannya dengan manhaj salaf.
Semasa kuliah, berbagai kegiatan kemahasiswaan dia ikuti, termasuk aktif dalam kegiatan PII propinsi Sulawesi selatan, yang melanjutkan aktifitasnya di Sragen. Pada 15 Juli 1990 dia membuka taman pengajian anak-anak dengan nama Nurul Istiqomah di tempat tinggalnya Jl. Syamsuddin Tunru Sungguminasa. Di sinilah tempat untuk menyalurkan segala aspirasi dakwah baik di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Nurul Istiqomah mendapatkan dukungan dari masyarakat dan keluarga.
Di kampus IAIN, dia berkenalan dengan Ust. Umar Sholeh karena sering konsultasi tentang mata kuliah bahasa Arab. Dari hasil konsultasi ternyata dia dan ust Umar memiliki banyak kesamaan tentang pangajaran al-Qur'an. Suatu kebetulan, Ust. Umar sementara merintis TK-TPA Al-Aulad di Jl. Andi Tonro dengan menerapkan metode baru pengajaran baca al-Qur'an “ Metode Iqra’; jadilah gayung bersambut. Dia mendapatkan ilmu tentang Metode Iqra’ dari ust Umar, dan Ust Umar-pun mendapatkan seorang pengajar TK-TPA Al Aulad yang sangat berpotensi.
Berawal dari pertemuan para Pembina, perbaikan bacaan, terbentuklah kelompok belajar yang kemudian dikenal dengan KKI (kelompok kajian islam) atau kelompok tarbiyah. Dari sinilah dia mengenal manhaj salaf, dari sinilah dia mulai rasakan pentingnya belajar islam secara intensif. Dari kalangan akhwat, dia termasuk kelompok awal (as-sabiqunal-awwalun) yang ikut tarbiyah. Dia masih dapatkan murabbinya adalah ustadz/ikhwan yang mengisinya dan belum ada hijab.
Ustadz Umar sholeh benar-benar mewarnai kehidupannya. Semua arahan-arahannya, nasehat-nasehatnya seakan-akan menyihirnya. Pola fikir, pola hidup dan pandangannya terhadap berbagai hal berubah total. Dia kubur dalam–dalam semua harapan orang tua dan saudara-saudaranya, agar dia bisa “mikul duwur mendem jero” menjadi pegawai negeri dan menjadi kebanggaan bagi keluarga karena satu-satunya yang sarjana. Dia nikmati betul keasyikan mengajar al-Qur'an pada santri-santri TK-TPA, apatah lagi ust Umar Sholeh sering memberi kesempatan kepadanya untuk menggantikan beliau dalam memberikan pelatihan-pelatihan di hadapan para ustadzah TK-TPA maupun para mahasiswi di berbagai perguruan tinggi. Jadilah dia seakan-akan mendapatkan “dunia baru” yang sesuai dengan jiwanya.

Perjuangan menegakkan “walimah” Pertama di Sungguminasa.
Tekanan dari pihak keluarga semakin gencar, seiring dengan semakin gencarnya dia melakukan aktifitas dakwahnya, yang tentunya tidak mendapatkan “gaji” darinya. Aneka omelan dia terima, bahkan ungkapan-ungkapan miring seperti apa gunanya sekolah tinggi kalau hanya jadi guru ngaji, lebih baik jual jamu dapat uang banyak. Dan masih banyak lagi, yang menyakitkan hati, yang ujung-ujungnya mendesaknya agar mau mendaftar menjadi pegawai. Berbagai alasan dia kemukakan, tetapi semuanya belum masuk dalam akal mereka. Apalagi tuntutan dakwah semakin besar, dengan semakin luas jangkauan garapannya yang meliputi Sungguminasa, Limbung, Bontonompo dan Takalar.
Dia mulai memikirkan seandainya ada “seseorang” yang bisa dia jadikan “imam” sekaligus menampung semua keluh kesahnya, menjadi mengayom juga memperkuat gerakan dakwahnya. Setelah melalui bincang-bincang dengan teman-teman dekatnya, kesimpulannya bahwa dia harus segera menikah. Tetapi dengan siapa dia akan menikah, bukankah wanita itu menunggu untuk dipinang ? Bukankah selama ini dia telah menjaga kehormatan dengan menjaga hijab dan tidak kenal pacaran sebagaimana kebanyakan anak-anak muda jaman sekarang? Bagaimana ini ? Apakah seandainya ia menikah, para saudaranya dapat menerimanya ? Apakah semua harapan-harapannya dapat terpenuhi ? Dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang menderanya.
Sholat, do’a dan konsultasi senantiasa dia lakukan untuk mengatasi problemnya. Jatuhlah pilihannya kepada seorang pemuda yang mempunyai peluang terbesar untuk diterima oleh keluarganya. Pemuda ini adalah seorang guru negeri yang sedang menyelesaikan kuliah S1-nya, dia mengajar TK-TPA, pernah berceramah, memiliki latar belakang yang sama dengannya yaitu kader PII dan ia orang Jawa. Tapi dia bukan “ikhwan”, bukan binaan, tidak tarbiyah, celananya masih isbal. Bisakah pemuda ini berubah menjadi “ikhwan” atau ustadz, bisakah ia diajak bersama-sama berdakwah ? Atau maukah ia diajak menegakkan “walimah” di tengah-tengah keluarga yang belum paham tentang walimah ? Apakah ia siap dan mau diajak walimah dengannya dalam waktu dekat ini ?
Tak ada salahnya jika dicoba. Peristiwa Khadijah yang mengajak Rasulullah  menikah melalui Maisyarah akan terulang lagi. Dia kuatkan diri, beranikan diri dan tawakkal kepada Allah  , dia sampaikan semua keinginannya kepada pemuda tersebut melalui sepucuk surat dan ternyata sambutannya luar biasa. Pemuda ini langsung menyetujuinya dan segera mengurusnya ke lembaga atau ke seorang ustadz. Semua proses telah dilaluinya dan tanggal walimahnyapun telah ditetapkan, tetapi lagi-lagi pihak keluarga menjadi batu sandungan. Mereka ingin acara menikahnya seperti saudaranya yang lain. Pesta besar-besar, disandingkan, dipajang di depan tamu laki perempuan, campur aduk, pakai pagelaran musik campur sari atau musik tradisional jawa. Mereka siap untuk membiayai semua itu dengan dana patungan sesama saudara. Berbagai macam alasan, penjelasan dan berbagai macam tehnik diplomasi telah ditempuh, tetapi keluarganya belum juga mau menerimanya.
Baginya, walimah adalah harga mati. Dia harus perjuangkan dan laksanakan walau keluarga tidak menyetujuinya. Dia maju dengan idealisme dan siap dengan segala resikonya. Semua saudara perempuan dan ipar perempuan mendukungnya, sedangkan saudara laki-laki dan ipar laki-laki mengancam akan memboikotnya.
Tanggal 11 September 1993 tercatat sebagai hari walimahnya. Acara pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana, yang diharapkan sesuai dengan sunnah nabi. Insidenpun hampir terjadi karena pak imam yang akan menikahkan memaksa untuk melihat langsung mempelai wanita, yang kala itu di kamar. Dengan terpaksa, ayah penganten wanita mendampingi pak Imam masuk ke kamar untuk minta tanda tangannya terhadap surat-surat yang diperlukan.
Setelah walimah, beberapa masalah telah terselesaikan terutama yang menyangkut keluarga. Tidak ada lagi hak saudara-saudaranya untuk memaksanya agar menjadi pegawai. Sekarang bisa fokus untuk berdakwah bersama sang suami. Tetapi problem baru akhirnya muncul. Persoalan yang menyangkut suaminya. Sang suami yang belum “ikhwan”, belum tarbiyah, belum “ustadz”; ini juga terbukti dalam aplikasi pelaksanaan agama dalam kesehariannya. “ Mbak ini, terlalu berani dan tak sabaran, padahal sedang dicarikan” begitu ucap salah satu pembinanya. Tapi keputusan telah diambil, pemuda yang baru dikenalnya telah menjadi suaminya maka dia bertekad untuk membantu suami agar bisa menjadi “imam”nya dalam mengarungi kehidupan, menjadi “ustadz” yang bisa diajak berbagi tugas dalam dakwah.
Berbagai macam upaya dilakukan agar tujuan ini tercapai seperti mencarikan tempat tarbiyah, silaturrahmi yang intens ke para ustadz, diajak terlibat dalam pengelolaan dakwah, mengajar TK-TPA bersama, kursus tartil al-Qur'an di AMM Yogyakarta dan lain-lain. Di samping upaya-upaya manusiawi, tak lupa do’a selalu dipanjatkan kepada Allah swt sebagai dzat yang memegang hati setiap manusia. Dia yakin bahwa suaminya akan mampu memenuhi harapan-harapannya. Setelah kurang lebih 3 tahun, dengan usaha yang pantang menyerah; terlihat ada tanda-tanda yang menggembirakan. Hampir semua syarat-syarat agar disebut “ikhwan” telah ada pada suaminya. Dia telah berhasil pula memaksa suaminya untuk menjadi “murabbi” yang mengisi tarbiyah bagi para suami dari akhwat binaan.

Perintisan TK-TPA dan tarbiyah-tarbiyah di Gowa.
Sejak masa lajangnya, dia merintis TK-TPA Nurul Istiqomah di Jl harapan sungguminasa dan KKI akhwat yang rata-rata pesertanya adalah para ustadzah TK-TPA. Seakan-akan TK-TPA dan tarbiyah merupakan satu paket yang tak terpisahkan. Kepada para peserta tarbiyah yang belum memiliki TK-TPA, dirangsang untuk segera mendirikan. Dia bimbing, arahkan, tatar,latih bahkan dijadikan sebagai kelas jauhnya TK-TPA Nurul Istiqomah sampai benar-benar ia mandiri. Bagi para ustadzah TK-TPA yang tergabung dalam LPTKA terutama yang dari Gowa dianjurkan mengikuti tarbiyah.
Bersama suami, dia rancang strategi dakwah yang bukan saja di sungguminasa tetapi melebar ke beberapa tempat yang sangat potensial di sekitar Sungguminasa, seperti Bontoramba, Bontobaddo, Borongkaluku, Panciro dan Sumanna. Di buka TK-TPA-nya, kemudian dibuka kelompok tarbiyah dan juga POS (pengajian orang tua santri). Dia datangi tempat-tempat tersebut secara rutin, walau medan jalanan belum semuanya bersahabat; ada yang berbatu-batu atau becek jika hujan. Semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berdakwah, terlebih suami selalu memberikan semangat dan terus terlibat dalam gerakan dakwah yang digelutinya. Sampai-sampai dia mengalami 2 kali keguguran. Bahkan dia berhasil “membangunkan” kembali para aktivis dakwah, para binaan lama; yang telah sekian lama “tertidur lelap” dari aktifitas dakwahnya.
Tak bisa dia lupakan kejadian saat pulang dari mengisi tarbiyah di Borong Kaluku. Dengan diantar suami dan ditemani putrinya, di tengah perjalanan ban motor kempes. Mau kembali ke tempat semula, sudah jauh; mau lanjutkan perjalanan sampai ada bengkel juga masih 2 Km lagi. Sementara badan sudah capek, ada anak kecil pula. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan sekali-kali istirahat, sedangkan suami jalan terus dengan motor kempes didorong sampai di bengkel. Bermandikan peluh dan keringat, akhirnya selesai juga ban di tambal dan dijemput oleh suami setelah berjalan cukup jauh.
Banyak kisah manis ketika berdakwah di daerah perkampungan, yang mayoritas binaan adalah petani. Ketika pulang, dia kewalahan membawa oleh-oleh sayur mayur dari para binaan. Gantungan motor kiri kanan penuh, di depan penuh, ada juga yang harus dipangku. Ada daun ubi, kangkung, kacang panjang, labu dan lain-lain; bahkan mereka merasa gembira jika pemberian itu di bawa pulang. Sehingga terjalinlah hubungan baik dengan para binaan dan akhirnya mereka mudah menerima dakwahnya.
Strategi terpadu TK-TPA , tarbiyah, POS, Majelis taklim rupanya cukup berhasil, maka dia mulai melirik strategi lain yang membuat lebih berhasil lagi. Pertama, menikahkan akhwat binaan dengan ikhwah dan tinggal di situ sebagai Pembina TK-TPA, POS dan tarbiyah. Kedua, mengambil akhwat binaan di daerah-daerah untuk tinggal di rumahnya; melanjutkan pendidikan, dilatih terlibat dalam pengelolaan TK-TPA, dan tarbiyah; yang nantinya akan membuka TK-TPA dan melakukan pembinaan lainnya di kampung masing-masing. Ketiga, menyusun buku-buku panduan TK-TPA seperti materi hafalan santri, ibadah praktis, sirah nabawi, akidah islam, akhlak anak islam, ulumul qur’an. Keempat, mengembangkan sistem pembinaan islam bagi para pemula yang disebut dengan Dirosa (Dirasah Orang Dewasa); menyusun buku-buku panduan dan pengelolaannya, serta melatih tenaga-tenaga pengajarnya.
Buku-buku TK-TPA yang disusun bersama suaminya telah dicetak berulang kali dan menjadi buku alternatif dalam pembinaan di TK-TPA; bukan saja di kalangan Wahdah Islamiyah tetapi juga bagi lembaga-lembaga lain. Sedangkan Dirosa (Dirasah Orang Dewasa) mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para kader ikhwan akhwat, dan menjadi model pembinaan baru yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah (awam). Dalam kurun waktu 2004-2010 di Gowa telah dapat dientaskan dari buta baca al-Qur'an sebanyak lebih dari 2.667 orang yang tersebar dalam 140 kelompok; yang setiap tahunnya diadakan acara tasyakuran dengan melibatkan unsur tokoh masyarakat dan pemerintah.

86 % warga Kampung binaan Wahdah Islamiyah laksanakan Kurban tahun ini

21 ekor sapi kurban oleh Jamaah masjid Al-Mujahidin Bontobaddo

Bontobaddo adalah sebuah nama kampung di kelurahan Bontoramba kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa sulsel, 5 km sebelah timur ibukota kabupaten Gowa Sungguminasa. Daerah ini dihuni oleh kurang lebih 170 KK dengan mata pencaharian mayoritas adalah petani, penjual sayur dan buruh bangunan. Kehidupan mereka rata-rata tergolong kekurangan walaupun sebagiannya ada yang berkecukupan.
Namun dibalik kehidupan yang bersahaja ini, Bontobaddo menyimpan keistimewaan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh kampung-kampung lain. Sejak tersentuh dakwah dengan sistem tarbiyah tahun 95-an yang lalu, Bontobaddo terus berbenah, memperbaiki kualitas diri yang dimulai dari pribadi-pribadi, keluarga kemudian masyarakat. Kehidupan keagamaan sangat terasa di kampung ini. Masjid Al Mujahidin-satu-satunya masjid di kampung ini-menjadi saksi akan hal ini, jamaah shalat 5 waktunya selalu ramai, taklim-taklim secara rutin dilaksanakan. Bontobaddo adalah kampung yang mempunyai stok ustadz terbanyak se-kecamatan atau mungkin se-kabupaten walaupun profesi hariannya adalah petani, penjual sayur keliling atau buruh bangunan. Anak-anak mengaji di TK-TPA. Jilbab besar, cadar adalah pemandangan yang selalu kita jumpai di sudut-sudut Bontobaddo; di jalan-jalan, kebun bahkan di sawah-sawah. Tak mengherankan jika sebagian orang menyebut Bontobaddo sebagai daerah kantongnya Wahdah Islamiyah.
Lagi-lagi, tahun ini, Bontobaddo memperlihatkan lagi kelasnya, sebagai kampung yang terus meng-Islamkan dirinya. 21 ekor sapi telah dikurbankan oleh warga Bontobaddo, setelah tahun lalu baru 10 ekor sapi kurban. 147 KK telah berkurban tahun ini, yang berarti 86 % lebih dari jumlah KK. Sebuah prestasi yang luar biasa yang dapat dijadikan barometer sejauh mana pemahaman agamanya serta aplikasi dalam sehariannya.
Selamat…… Bontobaddo, lanjutkan pembinaanmu, buatlah Murabbi-Murabbiyah pertamamu tersenyum dan terus mendapat kiriman pahala Allah swt, karena engkau selalu berbuat kebaikan.

Administrasi Praktis TK-TPA

Administrasi Praktis TK-TPA
Oleh
Dra. Sunarsih

1. Manajemen Administrasi
6 Komponen : Diproses / diolah :
a. Planning
b. Organizing
c. Derecting
d. Coordinating
e. Controlling
f. Evaluating
2. Manajemen Operatif (Bid. Garapan)
• Adm. Santri
• Adm.Pengajaran
• Adm. Personalia
• Adm.Perlengkapan
• Adm. Keuangan
• Adm. Persuratan dan Kearsipan
• Adm. Perpustakaan
• Adm. Hub. Kemasyarakatan
3. Adm. Santri
• Santri Baru
• Absen Santri
• Raport
• Daftar kelas
• Blangko kenaikan jilid
• Kartu-kartu
4. Adm.Pengajaran
• Pengadaan buku Kurikulum / kalender akademik
• Intra kurikuler ( terlampir di mat. Hafalan santri)
• Ekstra kurikulum ( disesuaikan-buat sendiri)
Penjabaran tujuan pendidikan/ TIK-TIU
Contoh TIK terlampir ( buku catatan harian)
• Penyusunan jadwal mengajar dan pembagian tugas
Kenaikan jilid, penanganan kasus dan lain-lain
• Perkembangan kemajuan belajar santri
Rembuk harian, rapat pekanan, rapat bulanan, semesteran, akhir tahun.
5. Adm. Personalia
Tugas masing-masing person pengurus
6. Adm.Perlengkapan
Pengadaan hal-hal yang dibutuhkan
7. Adm. Keuangan
Bendahara
8. Adm. Persuratan
Sekretaris LP3Q
9. Adm. Perpustakaan dan Hub. Kemasyarakatan.
10.

Konsep Dasar TK-TP Al-Qur'an

Konsep Dasar TK-TPA
Oleh
Komari, S.Pd
Ketua LP3Q DPP Wahdah Islamiyah

Cakupan Bahasan
1.Potret santri TK-TPA.
2.Lintasan Sejarah TK-TPA
3. Problem Pendidikan al-Qur’an
4. Konsep Taman di TK-TPA

Potret Santri TK-TPA
Lintasan Sejarah TK-TPA
TK-TPA Raudhatul Mujawwidin Semarang = Metode Qiro’aty = Perintis TK-TPA
AMM Yogyakarta = Balitbang LPTQ Nasional = Metode Iqra = Pengembang TK-TPA
BKPRMI = Munas Di Surabaya = TK-TPA menjadi program andalan = menyebar ke seluruh penjuru tanah air.
Lembaga-lembaga dakwah lain ikut meramaikan = membina TK-TPA .

Problem Pendidikan al-Qur’an
1. Guru mengaji makin langka.
2. Dana yang terbatas.
3. Pengelolaan yang apa adanya.
4. Kalah bersaing dengan pengaruh-pengaruh dari luar seperti TV, film, Video, radio, Game dan lain-lain.
5. Pendidikan agama di sekolah-sekolah formal sangat kurang waktu dan porsinya.
Konsep Dasar TK-TPA
Konsep = gagasan, ide yang terencana, teratur, punya target (jangka pendek-panjang).
T = Taman
P = Pendidikan
A = al-Qur’an
Pengertian
Secara filosofi, " Taman " adalah tempat yang Indah, Bersih,Rapi, Nyaman dan menyenangkan.
T = Taman
suatu tempat yang ditanami aneka tumbuhan, ditata dengan rapi, dirawat,Yang melihat akan terpesona,
merasa nyaman, jadi betah, mau berlama-lama, dan jika berpisah hatinya selalu rindu ingin kembali.
P = Pendidikan
Suatu proses transfer nilai = pabrik; Proses transfer nilai bisa jalan jika terpenuhi 5 faktor, sebagai berikut :
1. Dasar
2. Tujuan
3. Pengajar
4. Santri- anak didik
5. Fasilitas- sarana pra sarana

TPA sebagai taman
Ditata = di kelompok – kelompokkan
Dirawat = disiram jika layu, dipupuk supaya subur.
Dirapikan = dipangkas, tertib
Indah:
1. Ruang belajarnya yang indah (diatur per kelas di masing-masing kelas, berseragam lengkap)
2. Pakaian santri dan ustadz-ustadzah (laki-laki: celana, baju panjang, songkok; wanita: jilbab sempurna, baju lengan panjang, rok atau jubah)
Rapi :
1. Penataan bangku-bangku belajar yang rapi.
2. Administrasi dikerjakan dengan baik dan rapi.
Bersih ;
1. Ruang belajar dan lain-lain di pel, disapu dan dilap berdasarkan regu kerja yang telah dibentuk.
2. Baju seragam dipakai setiap 2 hari.
Nyaman:
1. Ruang belajar dengan sirkulasi udara yang baik.
2. Jauh dari kebisingan kendaraan.
Menyenangkan:
1. Variasi metode pengajaran.
2. BCM.
3. Para Ustadz/ah yang supel, luwes, suka bergaul, dan menyenangkan.
Syukran
Wa jazakumullah katsiran

Metodologi Pengajaran Materi Penunjang


Metodologi Pengajaran Materi Penunjang TK-TPA
Oleh
Sunarsih

Cakupan Bahasan
• Pengertian
• Tujuan Materi Penunjang
• Metodologi Pengajaran secara Umum Materi Penunjang
• Praktek Pengajaran tiap materi Penunjang.

A. Apa yang dimaksud Dengan Materi Penunjang ?



B. Apa tujuan Pengajaran Materi Penunjang di TK-TPA ?
• Praktek sholat : pemberian pemahaman kaifiyah sholat
• Amalan Ibadah Shalat : pembiasaan tunaikan shalat
• Amal Harian : pembiasaan akhlak yang baik dalam aktifitas harian.
• Muatan Lokal ( ibadah praktis, sirah nabawi, akidah islam, akhlak anak islam); pengenalan dasar-dasar keislaman.

C. Metodologi Pengajaran Secara Umum Materi Muatan Lokal (Dinul Islam) TK-TPA
• Santri membaca secara bergantian terhadap materi yang ditargetkan.
• Ustadz/ah menjelaskan secara singkat materi tersebut dengan bahasa yang sederhana; disertai dengan aneka peraga yang ada, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
• Tanya jawab tentang materi tersebut.

D. Praktek Pengajaran Materi Penunjang TK-TPA
Ibadah Praktis
- Penjelasan singkat tentang ibadah
- Thaharah
- Shalat
- Puasa
- Zakat
- Haji
Akhlak Anak Islam
- Pengertian akhlak
- Alloh
- rasul
- Al-Qur'an
- Orangtua
- Diri Sendiri
Akidah Islam
Pengertian akidah : al aqdu = Ikatan, percaya. Kalimat tauhid Laa ilaha illallah
- رَضِيْتُ بِاللهِ رَبّاً (*) وَبِالْإِسْلاََمِ دِيْناً (*) وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّاً وَّرَسُوْلاً
Sirah Nabawi
- Penjelasan tentang sirah nabawi
- Masa perkembangan nabi Muhammad 
- Masa terutusnya sebagai nabi
- Peristiwa-peristiwa penting sebelum hijrah
- Rasulullah  dan kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib
- Kehidupan baru di Madinah
- Wafatnya Rasul 

Langkah-langkah Mendirikan TKA-TPA

LANGKAH-LANGKAH PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN TK-TPA
SEBUAH TINJAUAN PRAKTIS

A. Latar belakang
TK-TPA : Kemauan siapa ?
1. Da’i.
2. Masyarakat.
3. Sekolah.
4. Organisasi.
5. Person
Penjelasan :
1. Jika da’i sendiri yang mau, maka langkah awalnya sbb :
a. Mulailah dari keluarga: anak-anak, kemenakan, adik dll, usahakan paling sedikit 5 anak. Kemudian dikelola sebagaimana sistem TK-TPA .
b. Buat target-target yang akan dituju
2. Jika masyarakat, yang menghendaki , maka :
a. Tawarkan persyaratan-persyaratan (pengelolaan yang Anda miliki) dll, tidak bertentangan dengan Syar’i.
b. Gerakkan dan libatkan tokoh-tokoh masyarakat.
c. Siapkan sarana dan prasarana yang memadai.
d. Ajaklah masyarakat bermusyawarah dan bentuklah secara formal, hubungilah instansi terkait ( Imam desa, KUA, DEPAG, LP3Q DPP, dll ).
3. Sekolah.
a. Hubungilah guru-guru dan ajaklah kerjasama.
b. Mintalah fasilitas yang bisa dimanfaatkan.
c. Pilihlah metode yang sesuai.
d. Bentuklah secara formal.
4. Organisasi
a. Konsultasikan dulu dengan Pimpinan organisasi ( atasan ) minta pendapat dan pertimbangannya.
b. Berilah batasan sejauh mana bentuk kerjasama agar tidak terjadi tumpang tindih ( tabrakan) jadwal, komando, dan tujuan.

B. Perhatikan Sikon ( Situasi dan kondisi ).

1. Kuasai medan dakwah..
a. Daerah perkotaan.
- Pendidikan yang tinggi.
- Pegawai, pedagang, buruh , swasta.
- Fasilitasserba ada, ; media elektronik, a tau cetak.
- Berpengaruh terhadap akhlak; kasar, keras, suka membangkang, cepat pasrah/ menyerah.
b. Daerah pedesaan.
- Pendidikan yang rendah.
- Tani, peternak.
- Pekebun, nelayan.
- Fasilitas serba kurang.
- Berpengaruh terhadap akhlak; lembut, penurut, hormat dll.
Oleh karena itu, seorang Da’i harus pandai menempatkan dirinya, sekaligus mampu mencari solusi yang tepat dan cepat terhadap semua persoalan yang muncul.

2. Kuasai cara-cara pengelolaannya/ pendirian TK-TPA.
a. Bekalilah diri Anda dengan pengetahuan khusus ( Keahlian ) tentang TK-TPA. Misalnya kursus 1 bulan atau magang atau PPL ke TK-TPA yang sudah mapan, maju; studi banding tentang administrasi, aktivitas, pengelolaan dll.
b. Datalah santri yang ada ( minimal 10 santri ).
c. Carilah tenaga Pengajar ( dari elemen masyarakat yang mendukung ). Bentuklah kepengurusan, bekali mereka dengan pelatihan ( penataran ) ustadz/ah. Hubungi Tim Penatar LP3Q DPP atau Lembaga sejenisnya.
d. Setelah berjalan beberapa saat dan dipandang sudah layak diresmikan, maka kita buatkan acara peresmian ( bisa dirangkaikan dengan penamatan yang pertama / demo kemampuan santri) dan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat setempat.
e. Bimbinglah dan arahkan menurut jalurnya masing-masing :
- Santri belajar sesuai dengan program, kurikulum; harian, pekanan, semester.
- Ustadz/ah atau pengerus, jalinlah kerjasama yang harmonis, rapat harian rutin, pendalaman materi klasikal/ privat, kajian Islam Intensif.
- Masyarakat/ orangtua santri :
i. Adakan pengajian POS ( persatuan orangtua santri )/ majlis taklim umum sekali sebulan.
ii. Bina kerjasama yang baik. Misalnya dengan pelayanan baca tulis Al Qur'an bagi orang dewasa ( Dirosa ).
iii. Tingkatkan silaturrohmi dengan orangtua santri atau anggota majlis taklim.
f. Tingkatkan dan galilah sumber dana, dengan cara :
i. Cari donatur tetap/ tidak tetap.
ii. SPP santri ( bisa beras, kelapa, coklat, jagung dll, nanti diuangkan.)
iii. Infaq harian santri/ orangtua santri.
iv. Depot TK-TPA.
v. Usaha-usaha lain ; kalender, stiker, baju seragam santri, bikin buku santri dll.
vi. Untuk perkotaan; libatkan para Pembina dalam Les privat baca tulis Al Qur'an dan sebagian uang tranfortnya disisihkan untuk TK-TPA.
g. Berilah tunjangan/ santunan kepada para Pembina menurut kadar kemampuan keuangan TK-TPA.

Selamat berjuang dan selamat mencoba
Jangan cepat putus asa dan menyerah
Insya Alloh akan berhasil
Tetapi harus bersabar

Problematika Dakwah : Satu Kader Satu

Menyoal SKS ( satu kader satu)
oleh
Komari
A.Mukaddimah.
Rasulullah  diutus bagi manusia untuk menyempurnakan akhlaknya, mengarahkan kehidupan, membimbing agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dengan demikian kehidupannya dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki selama di dunia apatah lagi nanti di akherat.
Lembaga dakwah adalah sarana , alat yang dipakai untuk tujuan dakwah, agar dakwah dapat sampai kepada kaum muslimin. Dakwah sebagai proses pembinaan, bimbingan, transfer ilmu dapat berjalan dengan sebaik-baiknya secara efektif dan efisien.
Da’i da’iyah, muballigh/ah, ustadz/ah, murabbi/yah dan apapun sebutannya adalah pelaku dakwah. Di tangannyalah berjalan atau mandegnya dakwah ini. Mereka harus berfikir keras untuk mencari format dakwah yang paling pas dengan segala tuntutan situasi dan kondisi terkini, baik dalam tataran materi, urutan penyampaian materi, metode penyampaian, atau target-target yang ingin dicapai dalam satu jenjang pembinaan (marhalah). Jika ini tidak dilakukan, maka akan berakibat pada proses dakwah tersebut, yaitu dakwah akan tampak monoton, tidak kreatif, kurang variatif, kurang komunikatif, beku, tidak PAKEM (pengajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan) yang berakibat juga pada rendahnya respon positif mad’u terutama kader pemula.
SKS (satu kader satu) merupakan program yang cemerlang dan strategis. SKS merupakan penajaman dari dakwah fardiah yang telah dilaksanakan secara alami (yang terlibat dan waktunya tidak dibatasi). SKS menggerakkan tiap kader, agar tiap kader dalam jangka waktu tertentu dalam menggaet, merekrut dan membawa (minimal) satu orang untuk diikutkan dalam daurah SKS, yang kemudian diaktifkan dalam halaqah-halaqah tarbiyah.

B.Pelaksanaan SKS.
Program SKS dicanangkan secara Nasional dalam Musyawarah Kerja pada Nopember 2009 dan sampai saat ini telah berjalan sebanyak 3 tahap. SKS tahap 1 telah berhasil dilaksanakan dengan tingkat keberhasilan 37 % artinya hanya 37 % saja dari jumlah kader yang berhasil melaporkan daurah SKS-nya. Selebihnya 63% belum diketahui apakah berhasil mengadakan daurah SKS atau tidak.
Program SKS tahap kedua digulirkan dan telah berhasil dilaksanakan dengan tingkat keberhasilannya 32 %. Sedangkan program SKS tahap ketiga yang diharapkan selesai Desember 2010 belum diketahui secara pasti tingkat keberhasilannya.
Seluruh alumni daurah SKS akan ditindaklanjuti dengan Pembina secara rutin berjenjang dengan istilah Tarbiyah atau halaqah tarbiyah. Dalam halaqah-halaqah inilah, para alumni daurah SKS digodok, digembleng secara intensif sekali dalam sepekan agar menjadi kader dengan kualifikasi 5 M (mukmin, muslih, mujahid, muta’awin dan mutqin). Aneka “santapan rohani” siap disajikan oleh para murabbi/yah, ibarat botol kosong yang siap diisi dan dibentuk menjadi “kader” yang dapat juga dipekerjakan untuk dakwah di bawah bendera ahlu sunnah wal jama’ah dan dibawah satu komando.

C.Kenyataan
“Keberhasilan” program SKS telah diprediksikan di atas kertas. Hitungan-hitungan akan terjadinya percepatan atau bahkan pelipatgandaan jumlah kader telah dilakukan. Pengerahan kader dalam menyambut program SKS juga telah dilakukan. Namun hasilnya masih minim.
Hasil yang minim ini rupanya, bukan saja dalam hal jumlah peserta daurah SKS; tetapi mereka yang ikut daurah SKS-pun banyak yang tak “tamat”. Ada yang hanya mengikuti satu materi, dua materi saja. Banyak alasan-alasan yang dikemukakan untuk meninggalkan arena daurah, bahkan tidak jarang yang tiba-tiba menghilang.
Belum lagi mereka yang telah di”tarbiyahi” banyak juga masalahnya, baik dari sisi peserta atau murabbinya. Banyak halaqah-halaqah tarbiyah hasil SKS yang “tutup”karena “kehabisan”peserta atau ditinggalkan murabbinya. Walaupun sampai saat ini belum ada evaluasi secara resmi tentang hal ini, tapi berdasarkan informasi dari beberapa DPCdi Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sultra, beginilah kondisinya. Tentu kondisi ini sangat tidak kita inginkan. Perlu kajian yang mendalam tentang sebab-sebab dan kemungkinan terapinya, agar program SKS benar-benar efektif dan efisien.

D.Faktor-faktor Penyebab.
Banyak faktor yang berpengaruh pada “kurang” berhasilnya program SKS. Tetapi pada tulisan ini, kami hanya menitikberatkan pada 2 faktor saja. Pertama; Input, kedua; sistem daurah SKS.
Pertama : Input.
Yang dimaksud dengan input adalah para peserta daurah SKS, yang direkrut dari mana saja; teman kantor, teman kecil, tetangga, kenalan dan lain-lain dengan aneka latar belakang yang berbeda. Mereka sangat sedikit mendapatkan informasi tentang daurah apalagi tentang tarbiyah. Mereka masuk dalam situasi yang sama sekali baru dan sangat berbeda dengan situasi lingkungannya sebelumnya. Telah terjadi perubahan situasi yang sangat drastis dari sebelum tarbiyah dan setelah tarbiyah.
Secara sederhana perubahan situasi peserta SKS pada sebelum dan sesudah Daurah SKS adalah sebagai berikut :
Situasi Sebelum daurah SKS
Situasi Sesudah daurah SKS /tarbiyah
1.Belum terbiasa duduk mendengarkan materi selama 1,5-2 jam.
1.Dituntut untuk duduk selama 1,5-2 jam untuk mendengarkan materi disajikan.
2.Belum terbiasa duduk untuk mengaji al-Qur'an di depan orang banyak, apalagi jika harus diulang-ulang karena banyak yang salah baca.
2.Dituntut untuk mau membaca al-Qur'an di depan teman-temannya, mau diperbaiki, ditegur, mungkin ada yang mentertawai.
3.Belum terbiasa menghafal al-Qur'an
3.Dituntut untuk bisa menghafal al-Qur'an secara rutin dan memperdengarkannya di hadapan murabbi dan teman-temannya.
4.Pelaksanaan ibadahnya yang masih sesukanya.
4.Pelaksanaan ibadah yang selalu dikontrol dan diarahkan.
5.Belum punya kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu.
5.Dan lain-lain
6.Dan lain-lain

Intinya, telah terjadi loncatan situasi yang sangat jauh, perbedaan yang sangat mencolok sehingga banyak yang mengalami “shock” atau kaget berat. Mereka tidak siap baik secara fisik maupun mental. Akibatnya mereka banyak yang mundur secara teratur, sehingga banyak kelompok tarbiyah yang bubar.
Sementara kelompok tarbiyah sebelum program SKS terbentuk setelah melalui daurah maupun tanpa melalui daurah. Peserta direkrut dari mereka yang telah:
1.Aktif mengikuti taklim-taklim rutin atau kegiatan keagamaan lainnya.
2.Punya kemauan untuk menuntut ilmu agama.
3.Telah terbiasa dan memperhatikan ibadah-ibadah mahdah.
Perubahan situasi antara sebelum dan sesudah daurah tidak terlalu jauh lompatannya. Sehingga peserta daurah ini adalah mereka yang telah mempunyai kesiapan dalam kegiatan pembinaan-pembinaan lanjutan (tarbiyah). Tingkat keguguran peserta relatif lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang ikut daurah setelah program SKS dicanangkan.
Kedua : Sistem pengelolaan daurah SKS.
Sistem pengelolaan daurah paska program SKS dicanangkan, belum ada perbedaan dengan dengan pola lama. Metode penyajian masih dimonopoli dengan metode ceramah, dengan orientasi transfer ma’lumat. Demikian juga dengan keikutsertaann peserta dalam daurah begitu longgar. Sehingga tidak sedikit peserta yang hanya mengikuti sebagian materi saja. Bagaimana mungkin input yang berbeda kemudian diperlakukan dengan cara yang sama (daurah SKS), akan menghasilkan output yang sama ?

E.Usulan dan saran.
Agar program SKS dapat efektif dan efisien dengan mencermati faktor-faktor penyebab di atas, maka berikut ini kami berikan usulan-usulan sebagai berikut :
1.Yang berhubungan dengan Input/ Peserta.
Rekrutmen calon peserta daurah SKS adalah mereka yang telah aktif dalam taklim-taklim rutin, pembinaan awal seperti Dirosa (Dirasah Orang Dewasa).
2.Yang berhubungan dengan sistem pengelolaan Daurah.
Harus ada penyegaran sistem pengelolaan daurah; seperti komunikasi dua arah, dialog, penggalian informasi tentang tujuan, minat, bakat atau kecenderungannya.

F.Penutup

Kelas VIII: Teorema Pythagoras

Teorema Pythagoras

Pengikut